Kendari, Sulawesi Tenggara

Ekspedisi Tenggara Foto

Artikel Terkini

Destinasi Sultra

Archives

Ekspedisi Foto

Gua Moliuano, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara

Di Buton Tengah, Buang Kacang dapat Jodoh

0 Comments



ekspedisitenggara.com – Mungkin ini bisa jadi alternatif untuk para jomblo yang gagal move on, di Buton Tengah tepatnya di Kecamatan Lakudo, ada salah satu tradisi dalam mencari jodoh untuk pria dan wanita yang sudah dewasa, tradisi ini di sebut “kamomose”.

Takut Gagal Move On jangan Pacaran

Tradisi kamomose merupakan tradisi turun temurun yang sudah ada di tengah masyarakat Lakudo Buton tengah, tradisi ini dilakukan dikala seorang anak gadis sudah beranjak dewasa yang ditandai dengan hadirnya “ tamu bulanan” pertama atau anak gadis yang sudah siap untuk menikah, dalam pelaksanaannya tradisi ini tidak mengenal pacaran, hal ini karena pacaran pada masa itu adalah hal yang dianggap tabu untuk dilakukan, dan juga bisa berakibat konflik apabila tenyata dalam pelaksanaan kamomose si pujaan hati mendapat kacang lebih banyak dari sang pacar.

Di pingit Untuk Di Pilih

Para Gadis Buton Tengah, sedang menunggu tradisi lempar kacang
Foto : Ridwan Tumbua

Pelaksanaan kamomose malalui beberapa ritual diantaranya proses pematangan mental para gadis, proses ini dilakukan dengan pingitan para gadis selama 7 hari, yang dilakukan diruang gelap sebuah rumah panggung, selama proses pingitan para gadis dibekali dengan ilmu agama, prilaku bermasyarakat maupun berkeluarga, pada hari pertama pingitan ini para gadis dimandikan terlebih dahulu oleh tetua adat setempat, hal ini dipercaya dapat memperlancar proses pingitan hingga kamomose.

Selama proses pingitan ini juga para gadis tidak diperbolehkan untuk buang hajat besar maupun kecil, sehingga harus mampu mengatur pola makan dan minum. Setelah menjalani proses pingitan ini para gadis siap disambut oleh sanak keluarga dan para lelaki yang siap untuk menjatuhkan pilihan, para gadis yang akan keluar dari ruang pingitan di dandan dengan pakaian adat Buton setelah dimandikan oleh tetua adat.

“Fopanga” Lempar Kacang

Para gadis yang akan turun dari rumah panggung, sebelumnya telah disiapkan bale bale untuk tempat duduk, yang didahului oleh tetua adat para gadis yang telah didandanpun turun tangga menuju bale yang telah disiapkan, setiap anak gadis akan didampingi oleh seorang anak perempuan yang belum dewasa.

Tradisi Kamomose di Buton Tengah
Foto : Ridwan Tumbua

Setelah para gadis tersebut duduk, maka dimulailah proses lempar kacang yang di sebut dalam bahasa setempat dengan fopanga, proses ini diawali oleh tetua adat diikuti oleh sanak keluarga dan dilanjutkan oleh para pemuda yang telah menunggu selama 7 hari untuk menentukan pilihan.

Didepan para gadis telah disiapkan sebuah wadah untuk menampung kacang yang akan dilemparkan oleh para lelaki, untuk melempar kacang para pemuda akan berjalan keliling mengitari para gadis, seorang pemuda yang jatuh hati kepada salah satu gadis makan akan melempar kacang lebih banyak kewadah gadis tersebut.

Ke Pelaminan Yuk!

Setelah proses lempar kacang selesai maka sang gadis yang mendapat kacang lebih banyak dari sang pemuda siap untuk dilamar, jika dalam proses tersebut akhirnya mereka sepakat, maka akan dilanjutkan ke proses peminangan oleh pihak keluarga.

Para Gadis yang melakukan tradisi kamomose, didampingi oleh anak perempuan,
yang kelak juga akan menjalani tradisi yang sama
Foto : Ridwan Tumbua

Tradisi ini merupakan salah satu tradisi terunik di Indonesia dalam mencari jodoh, banyak pelajaran berharga yang bisa diperoleh dari tradisi tersebut, terutama bagaimana melatih diri untuk berbenah sebelum menuju jenjang kehidupan yang baru.(***)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *