Kendari, Sulawesi Tenggara

Ekspedisi Tenggara Foto

Artikel Terkini

Destinasi Sultra

Archives

Ekspedisi Foto

Gua Moliuano, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara

Wisata Budaya, Tradisi Sembilan Wanita Penjaga Makam di Buton Tengah

0 Comments


Sebuah rumah panggung yang kelihatan biasa saja, di huni oleh para wanita paruh baya sebagian besar berstatus janda sebanyak 9 orang, tidak di perkenankan seorang lelaki untuk tinggal di rumah itu, tugas mereka hanya satu, yakni melakukan ritual pembersihan makam yang mereka yakini sebagai makam Sangia Wambulu sang Imam di Kesultanan Buton.

Rumah tempat tinggal Kabolosi
Foto : Ridwan Tumbua

Jika melakukan perjalanan dari Kota Kendari ke Bau-Bau, maka sudah pasti akan melewati dua tanjung sempit dengan arus laut yang cukup deras, suasana mistis akan lebih terasa jika melewati tanjung itu pada waktu sore hari, kerumunan kelelawar akan terlihat bermigrasi dari tempat istrahat mereka di daratan Pulau Muna menuju hutan Lambusango di daratan Pulau Buton untuk mencari makan di malam hari.

Di atas tanjung itulah terdapat desa Baruta kecamatan Sangia Wambulu salah satu kecamatan hasil pemekaran di Buton Tengah. Aktifitas utama masyarakat di desa ini adalah menjadi saudagar di daerah lain, sebagian yang lainnya menjadi petani dan nelayan, sebagai wilayah yang masuk dalam wilayah teritorial Buton Tengah, Kecamatan Sangia Wambulu banyak melakukan pembenahan terutama fasilitas umum seperti jalan dan fasilitas kesehatan.

Makam di Hutan Purba

Hutan Purba di tepi Kampung Baruta
Foto : Ridwan Tumbua

Di atas tanjung Baruta terdapat sebuah hutan kecil dengan pepohonan purba berdiameter cukup besar, luas hutan ini sekitar 1 hektar are (Ha), jalan di dalam hutan penuh dengan lumut sehingga harus berhati-hati ketika melangkah, tak ada tumpukan daun yang berserakan diatas tanah, berjalan masuk kedalam hutan sekitar 500 meter kita akan menemui sebuah bangunan semacam villa di dalamnya terdapat beberapa kamar dan ruang shalat yang cukup luas di lengkapi dengan beberapa perlengkapan shalat, di depan bangunan itulah terdapat makam Sangia Wambulu, Sangia Wambulu merupakan gelar yang diberikan oleh penduduk Baruta bagi sosok religius, tokoh agama kesultanan Buton yang mengasingkan diri d ikarenakan terjadi huru-hara di dalam kesultanan pada masa itu, Sangia Wambulu di anggap sakti karena mampu mengarungi derasnya arus tanjung baruta hanya dengan menggunakan sebuah perahu kecil bersama keluarganya kala itu, miniatur perahu akan kita temui di depan pintu makam, sebagai simbol perjuangannya.

Villa dekat makam Sangia Wambulu
Foto : Ridwan Tumbua

Pemerintah Kabupaten Buton Tengah telah menetapkan lokasi ini sebagai salah satu destinasi wisata religius yang ada di Buton Tengah sejak tahun 2016.

Kabolosi, Penjaga Makam Turun Temurun

Bersihnya jalan setapak di hutan lokasi makam Sangia Wambulu tidak bersih begitu saja, akan tetapi ada orang yang setiap hari membersihkan dan merawat pepohonan di sekitarnya, menurut tutur warga sekitar, sepeninggal Sangia Wambulu, ia berwasiat agar di makamkan di dalam hutan dan juga makamnya dibersihkan 3 kali dalam sepekan.

Para Wanita Penjaga Makam
Foto : Ridwan Tumbua

Sembilan orang wanita penjaga makam tersebut memiliki 1 orang pemimpin yang  di sebut dengan kabolosi yang berarti pengganti, proses penentuan seorang kabolosi tidak serta merta bahwa ia janda lantas langsung bisa menjadi kabolosi, akan tetapi harus melalui proses ritual sakral, menurut informasi dari warga sekitar seorang kabolosi harus berasal dari turunan kabolosi yang telah menjadi penjaga makam sebelumnya, selain itu proses penentuannya juga harus mendapat wangsit dari Sangia Wambulu.

Seorang kabolosi tidak bekerja sendiri akan tetapi dibantu oleh 8 orang wanita lainnya untuk membersihkan makam, tercatat sudah belasan kabolosi dan pembantu secara turun temurun menjaga makam Sangia Wambulu. Proses penggantian kabolosi akan dilakukan jika sang kabolosi telah meninggal dunia.

Ritual Sakral Membersihkan Makam

Sebelum melakukan pembersihan makam ada ritual yang dilakukan di rumah Kabolosi yakni menyiapkan bungkusan peralatan dan membakar dupa, bungkusan dimaksud berupa kain yang isinya di anggap warga sebagai jantung dari Kesultanan Buton yang tidak bisa dibuka selain oleh kabolosi. Setelah semua siap, maka para penjaga makam dan kabolosi berjalan mengelilingi desa dengan membawa baki dan dupa yang telah dibakar dengan menggunakan pakaian adat bermotif sama, selama mereka berjalan menuju pemakaman, tidak diperbolehkan ada orang selain para janda ini berjalan dibagian depan, atau jika mereka berpapasan dengan seseorang ang sedang berjalan, maka orang tersebut harus jongkok sampai kabolosi melintas.

Pertama-tama ke 9 wanita ini membersihkan makam para kabolosi pendahulu mereka sebelum ke makam Sangia Wambulu, ritual di makam ini sama dengan ritual ziarah kubur masyarakat di Indonesia timur yakni dengan menyiram air ke batu nisan dan makam bagian tengah (badan)dan kemudian membaca ayat-ayat Al Quran yang membedakan hanyalah mereka menggunakan dupa berjalan mengikatari makam dan batu nisan.

Setelah membersihkan makam para kabolosi, mereka kemudian berjalan menuju hutan tempat makam Sangia Wambulu, makam Sangia Wambulu begitu terawat, di kelilingi pagar menggunakan keramik sebagai material dinding dan lantai lokasi makam, untuk masuk kelokasi makam ini tidak diperbolehkan menggunakan pakaian bawahan selain sarung dan harus mencuci kaki terlebih dahulu, selain makam Sangia Wambulu, dilokasi yang sama juga terdapat makam pengawal kesultanan yang mengawal Sangia Wambulu dalam pengasingannya.

Wisata Religi, Tradisi Menjaga Makam Sangia Wambulu

Pelaksanaan tradisi pembersihan makam ini dilaksanakan 3 kali seminggu yakni, antara hari rabu, jumat dan minggu, bagi pelancong yang hobby dengan wisata budaya ataupun religi, upacara ini sangat recomended untuk di saksikan, tidak jarang banyak pengunjung yang menginap di villa dekat makam, ada yang bertujuan untuk sekedar uji nyali adapula yang berburu wangsit.

Makam Sangia Wambulu
Foto : Ridwan Tumbua

Proses pembersihan makam diawali dengan penmbacaan doa-doa oleh kabolosi, kemudian para pembantunya melakukan pembersihan dengan cara menyapu nisan dengan dedaunan yang di celupkan kedalam wadah berisi cairan semacam minyak, kemudian mereka berkumpul mengelilingi makam dan membaca ayat-ayat Al Quran yang di pimpin oleh imam desa.

Di depan makam ini kemudian mereka akan membuka bungkusan kain yang mereka bawa-bawa dan di anggap sebagai warisan Sangia Wambulu yang harus di jaga dan tak boleh ada orang lain yang melihat saat membukanya dan juga dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai rahasia tanah Buton.

Para Wanita Tua Penjaga Makam Sebagai Local Guide Sangia Wambulu

Hal yang menarik dalam kehidupan para wanita yang di pimpin oleh seorang tetua bernama kabolosi ini adalah, usia mereka yang tergolong sudah tua, untuk mencari nafkah mereka sudah kesulitan. Dalam perjalanannya, tradisi Kabolosi yang di jalani semenjak wafatnya Sangia Wambulu pada zaman penjajahan, pada akhirnya mendatangkan rezeki, dengan ketekunan mereka menjaga kawasan makam, membersihkan dedaunan setiap hari, menyiapkan villa sebagai tempat istrahat pengunjung dan terutama menjalankan tradisi yang di wariskan, para pengunjung dengan sendirinya tersentuh untuk sekedar memberikan tip bagi para wanita ini, tak jarang setiap pengunjung memberikan tip antara 100 hingga ratusan ribu rupiah.

Kompleks Makam Sangia Wambulu
Foto : Ridwan Tumbua

Secara tidak langsung, mereka tahu ataupun tidak, kehidupan para wanita penjaga makam ini, dapat dikatakan telah menjalani profesi Tour Guide bagi pengunjung Makam Sangia Wambulu.

Selain suasana mistis makam dan ritual sakral kabolosi, di desa Baruta ini juga terdapat sebuah ke unikan lainnya, sebuah pohon besar tak berdaun di tengah desa saat siang hari akan di penuhi dengan kelelawar yang bergelantungan dan akan terbang menuju hutan Lambusango pada sore hari untuk mencari makan, dan akan kembali lagi menjelang pagi (***)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *