Kendari, Sulawesi Tenggara

Ekspedisi Tenggara Foto

Artikel Terkini

Destinasi Sultra

Arsip

Ekspedisi Foto

Gua Moliuano, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara

TAMAN LOKA MANDIRI, DARI TENDA BIRU MENJADI KOLAM BIRU

0 Comments


“Saya hanya ingin membantu anak-anak mengenal air, sayapun berinisiatif membeli tenda biru, banyak yang mencibir bahkan istri tidak sepenuhnya mendukung”

ekspedisitenggara.com – Jalur utama jalan di kecamatan Amonggedo teraspal mulus sehingga tidak perlu khawatir dengan kubangan lumpur akibat hujan semalam, suasana pagi itu cukup cerah, matahari bersinar terang, dan langit berwarna biru dengan sedikit awan putih bak lukisan yang terpajang tak bersisi.

akses jalan menuju desa Puasana
Foto : Ridwan Tumbua

Tidak sulit untuk menemukan  desa Puasana tanpa tuntunan google map, desa yang berjarak sekitar 40 km dari Kota Kendari ini, memiliki salah satu objek wisata yang belum lama ini menjadi viral di media social lantaran konsepnya yang mengadopsi arsitektur bangunan Bali.

Taman Loka Mandiri, sebuah wisata buatan karya bapak I Ketut Loko, salah satu warga di desa Puasana yang saya temui pagi itu, pria berusia sekitar 40an tahun ini bercerita tentang awal mula ia berinisiatif untuk membangun kolam renang dengan konsep taman yang jauh dari perkotaan.

Kolam Renang Taman Loka Mandiri
Foto : Dok Probadi I Ketut Loko

Area Taman Loka Mandiri (TLM) dengan luas ¼ ha, dibangun sejak maret 2018 awalnya merupakan lahan peternakan ayam milik bapak I Ketut Loko, ide untuk membangun taman ini terbesit ketika Ia ingin mendaftarkan dua orang anaknya menjadi polisi, salah satu kendala yang dihadapi saat proses seleksi, kedua anaknya tersebut tidak bisa berenang. Dari hal itu kemudian Ia berpikir untuk membuat satu fasilitas bagi anak-anak di desa Puasana agar bisa berenang dengan membuat kolam renang sederhana.

Di area peternakan tersebut, masih ada lahan kosong yang bisa dijadikan kolam, bermodalkan semangat dan sebuah terpal untuk menampung air, I Ketut Loko kemudian menggali lahan tersebut secara manual dibantu oleh beberapa orang tetangganya, banyak yang menyangsikan apa yang ia lakukan termasuk istrinya sendiri, kurang mendukung penuh apa yang menjadi ide anak ke 4 dari 8 bersaudara ini.

salah satu sudut Taman Loka Mandiri
Foto : Ridwan Tumbua

Selama kurang lebih 1 bulan, satu buah kolam dengan tepinya hanya berdinding batu batako yang disusun dan di lapisi terpal Taman Loka Mandiri mulai di minati oleh anak-anak di desa Puasana, melihat hal itu kemudian I Ketut Loko, berupaya untuk membuat kolam permanen, ia kemudian bekerjasama dengan pemilik toko bahan bangunan untuk di beri pinjaman bahan untuk membangun kolam permanen.

Saat ini sudah terdapat 5 kolam, dengan kedalaman yang berbeda-beda, fasilitas pengunjung seperti gazebo, WC, restoran, dan tempat santai lainnya sudah terbangun dengan mempekerjakan 4 orang pegawai tetap. Nama tempat inipun sudah banyak tersebar sebagai lokasi wisata yang layak untk dikunjungi.

Dalam sehari rata-rata pengunjung berkisar 80-200 pengunjung, sedangkan di hari libur bisa mencapai 500 pengunjung, harga tiket masuk tergolong sangat murah, 10 ribu rupiah sudah bisa menikmati semua fasilitas yang ada di Taman Loka Mandiri, pengunjung rata-rata berasal dari Konawe, Kota Kendari dan Kolaka. Upaya untuk terus melengkapi fasiltas terus dilakukan oleh bapak I Ketut Loko, terlihat pagi itu kolam air sedang di keringkan untuk melakukan pengecatan ulang dasar kolam, agar lebih terlihat menarik dan terawat kebersihan kolamnya.

Spot Foto Taman Loka Mandiri
Foto : Ridwan Tumbua

Suasana pertemuan dengan bapak I Ketut Loko  tak merasakan waktu yang terus berjalan, obrolan santai berlatar musik khas bali dan menikmati keindahan taman dengan berbagai arsitektur bali membuat lupa bahwa saat itu saya sedang berada di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara.(***)

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *